- Yohanes Ferdinan Silaen
- 18 September 2026
Loading
Perlindungan hewan (animal
welfare) menjadi isu yang semakin mendapat perhatian di Indonesia dalam
beberapa tahun terakhir. Dorongan dari organisasi kesejahteraan hewan,
meningkatnya kepemilikan hewan peliharaan, perhatian terhadap kesehatan
masyarakat, serta tuntutan standar perdagangan internasional telah mendorong
pemerintah untuk memperkuat kerangka regulasi yang mengatur perlakuan terhadap
hewan.
Meskipun Indonesia belum memiliki
Undang-Undang Perlindungan Hewan yang berdiri sendiri seperti beberapa negara
maju, berbagai ketentuan mengenai kesejahteraan hewan telah tersebar dalam
sejumlah peraturan perundang-undangan dan terus mengalami perkembangan. Bahkan,
kalangan akademisi dan pembuat kebijakan saat ini tengah mendorong pembentukan
regulasi yang lebih komprehensif sebagai payung hukum nasional kesejahteraan
hewan.
Kerangka Regulasi Perlindungan
Hewan di Indonesia Saat Ini
1. Dasar Hukum Nasional
Landasan utama perlindungan dan
kesejahteraan hewan di Indonesia saat ini berasal dari:
UU Peternakan dan Kesehatan Hewan
memperkenalkan prinsip kesejahteraan hewan yang mencakup pemeliharaan,
pengangkutan, pemanfaatan, hingga penyembelihan hewan. Regulasi ini mengadopsi
prinsip-prinsip internasional mengenai perlakuan yang layak terhadap hewan.
2. Pergeseran dari Kesehatan
Hewan ke Kesejahteraan Hewan
Jika sebelumnya regulasi Indonesia
lebih berfokus pada kesehatan hewan dan pengendalian penyakit, perkembangan
terbaru menunjukkan pergeseran menuju konsep "animal welfare"
yang lebih luas.
Beberapa isu yang semakin banyak
dibahas meliputi:
Penelitian hukum terbaru
menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengkaji pembentukan regulasi payung (umbrella
regulation) yang secara khusus mengatur kesejahteraan hewan secara lebih
komprehensif.
Kota dan Daerah yang Paling
Ketat Menerapkan Regulasi Perlindungan Hewan
DKI Jakarta: Pelopor Regulasi
Modern
Jika dilihat dari aspek regulasi,
pengawasan, dan kebijakan publik, DKI Jakarta saat ini dapat dianggap sebagai
daerah dengan pendekatan perlindungan hewan paling progresif di Indonesia.
Pada tahun 2025, Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta menerbitkan regulasi yang melarang perdagangan dan
konsumsi daging hewan pembawa rabies seperti anjing dan kucing. Regulasi
tersebut juga mencakup larangan penyembelihan serta distribusi hewan-hewan
tersebut untuk konsumsi manusia. Pelanggaran dapat berujung pada penyitaan
hewan, penutupan usaha, hingga pencabutan izin usaha.
Selain itu, Jakarta juga mulai
mengembangkan berbagai program kesejahteraan hewan seperti:
Mengapa Jakarta Dinilai Paling
Maju?
Beberapa indikator yang
menunjukkan tingkat implementasi yang relatif lebih kuat dibanding daerah lain
adalah:
Di luar Jakarta, beberapa kota
seperti Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Yogyakarta juga mulai mengembangkan
program kesejahteraan hewan, namun belum memiliki kebijakan yang sekomprehensif
Jakarta.
Perbandingan dengan Negara Lain
1. Jerman: Salah Satu Standar
Tertinggi di Dunia
Jerman sering dianggap sebagai
salah satu negara dengan regulasi perlindungan hewan paling kuat.
Karakteristik utama:
Di Jerman, pelanggaran serius
terhadap kesejahteraan hewan dapat dikenai sanksi pidana dan denda yang
signifikan.
2. Selandia Baru
Selandia Baru menjadi salah satu
negara pertama yang secara eksplisit mengakui hewan sebagai makhluk yang
memiliki kesadaran (sentient beings). Amandemen Animal Welfare Act tahun 2015
menegaskan pengakuan tersebut.
Undang-undang tersebut mewajibkan
pemilik hewan memenuhi kebutuhan:
Perbandingan dengan Indonesia
Indonesia telah mengadopsi prinsip
kesejahteraan hewan, namun belum secara eksplisit mengakui hewan sebagai
makhluk yang memiliki kesadaran atau sentience sebagaimana Selandia Baru.
3. Inggris
Inggris memperkuat perlindungan
hewan melalui pengakuan hukum bahwa hewan adalah makhluk yang dapat merasakan
(sentient beings). Selain itu, kebijakan kesejahteraan hewan menjadi bagian
dari proses evaluasi kebijakan pemerintah.
Beberapa kebijakan penting
meliputi:
4. Swiss
Swiss sering menempati peringkat
tertinggi dalam perlindungan hewan.
Contoh regulasinya:
Pendekatan Swiss menempatkan
kesejahteraan psikologis hewan sejajar dengan kesejahteraan fisiknya.
Regulasi Negara Lain yang
Berpotensi Diterapkan di Indonesia
1. Pengakuan Hewan sebagai
Makhluk yang Memiliki Kesadaran (Sentience)
Model:
Potensi penerapan:
2. Undang-Undang Perlindungan
Hewan Nasional yang Berdiri Sendiri
Model:
Potensi penerapan:
Indonesia saat ini masih mengatur
kesejahteraan hewan secara sektoral melalui regulasi peternakan dan kesehatan
hewan.
3. Sistem Lisensi dan
Sertifikasi Pemilik Hewan Tertentu
Model:
Potensi penerapan:
Tujuannya memastikan pemilik
memahami kebutuhan kesejahteraan hewan sebelum memperoleh izin.
4. Larangan Penjualan Hewan di
Toko Hewan Tertentu
Model:
Potensi penerapan:
5. Standar Nasional Shelter dan
Rescue Center
Model:
Potensi penerapan:
Tantangan Indonesia ke Depan
Walaupun regulasi terus
berkembang, terdapat beberapa tantangan utama:
Selain itu, Indonesia harus
menyeimbangkan antara perlindungan hewan, budaya lokal, kebutuhan ekonomi
peternakan, dan kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Perlindungan hewan di Indonesia
sedang bergerak menuju pendekatan yang lebih modern dan berorientasi pada
kesejahteraan hewan. Kerangka hukum nasional sudah ada melalui UU Peternakan
dan Kesehatan Hewan, namun masih belum setara dengan negara-negara yang
memiliki undang-undang perlindungan hewan khusus.
Dari sisi implementasi daerah, DKI
Jakarta saat ini dapat dianggap sebagai wilayah dengan kebijakan perlindungan
hewan paling progresif, terutama setelah penerapan larangan perdagangan dan
konsumsi anjing serta kucing pada tahun 2025.
Ke depan, Indonesia berpotensi
mengadopsi berbagai praktik internasional, seperti pengakuan hewan sebagai
makhluk yang memiliki kesadaran, pembentukan undang-undang perlindungan hewan
yang komprehensif, sertifikasi kepemilikan hewan tertentu, serta standar
nasional untuk shelter dan perdagangan hewan. Jika diterapkan secara bertahap,
langkah-langkah tersebut dapat membawa Indonesia lebih dekat kepada standar
kesejahteraan hewan yang berlaku di negara-negara maju.
Disclaimer:
Informasi dan pendapat dalam tulisan ini disajikan semata-mata untuk tujuan
informasi dan edukasi publik. Dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk
penggunaan, penafsiran, maupun keputusan yang diambil berdasarkan isi tulisan
ini. Pembaca diharapkan melakukan verifikasi dan penilaian secara mandiri
sesuai kebutuhan.
0 Komentar:
Login