- Girta Yoga
- 17 September 2026
Loading
Penggunaan Closed Circuit
Television (CCTV) telah menjadi bagian penting dalam sistem keamanan
modern. Kamera pengawas kini digunakan di pusat perbelanjaan, gedung
perkantoran, fasilitas publik, kawasan industri, perumahan, hingga rumah
pribadi. Selain berfungsi sebagai alat pencegah kejahatan, CCTV juga menjadi
sumber pembuktian dalam proses penegakan hukum.
Namun, semakin luasnya penggunaan
CCTV menimbulkan tantangan baru, terutama terkait perlindungan privasi,
pengelolaan data pribadi, transparansi penggunaan, serta akuntabilitas
penyelenggara. Indonesia sendiri belum memiliki undang-undang yang secara khusus
mengatur CCTV.
Regulasi mengenai CCTV sendiri tersebar
dalam berbagai peraturan, terutama Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang
Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU
ITE), serta berbagai aturan sektoral.
Kerangka Hukum CCTV di
Indonesia
1. Belum Ada Undang-Undang
Khusus CCTV
Berbeda dengan beberapa negara
maju, Indonesia belum memiliki regulasi khusus yang mengatur seluruh siklus
penggunaan CCTV, mulai dari pemasangan, pengoperasian, penyimpanan rekaman,
akses terhadap rekaman, hingga penghapusannya.
Akibatnya, pengaturan CCTV masih
mengandalkan pendekatan perlindungan data pribadi dan hukum administrasi.
2. UU Pelindungan Data Pribadi
(UU No. 27 Tahun 2022)
UU PDP menjadi dasar hukum paling
penting dalam penggunaan CCTV saat ini.
Rekaman CCTV yang dapat
mengidentifikasi seseorang—misalnya melalui wajah, kendaraan, atau
karakteristik lainnya—dikategorikan sebagai pemrosesan data pribadi sehingga
tunduk pada prinsip-prinsip UU PDP.
Pasal 17 UU PDP secara khusus
mengatur penggunaan perangkat pemroses data visual di tempat umum. Beberapa
prinsip penting meliputi:
Selain itu, pengendali data wajib
memiliki dasar hukum pemrosesan, menerapkan keamanan data, membatasi penggunaan
sesuai tujuan awal, serta memenuhi hak-hak subjek data sebagaimana diatur dalam
UU PDP.
3. Hubungan dengan UU ITE
UU ITE lebih banyak mengatur
penyadapan dan akses ilegal terhadap sistem elektronik daripada pemasangan
CCTV.
Namun, apabila rekaman CCTV
diperoleh melalui akses tidak sah, diretas, dimanipulasi, atau disebarluaskan
tanpa dasar hukum yang sah, pelaku dapat dikenai ketentuan pidana berdasarkan
UU ITE maupun UU PDP.
4. Belum Ada Standar Teknis
Nasional
Indonesia belum memiliki standar
nasional mengenai:
Kondisi ini menyebabkan setiap
instansi atau perusahaan menerapkan kebijakan yang berbeda-beda.
Perkembangan Implementasi CCTV
di Indonesia
1. Pertumbuhan Sangat Pesat
Dalam satu dekade terakhir,
penggunaan CCTV berkembang pesat karena:
Pemerintah daerah juga banyak
mengintegrasikan CCTV dengan command center untuk memantau lalu lintas, banjir,
maupun keamanan kota.
2. Implementasi Masih
Berorientasi Keamanan
Sebagian besar implementasi CCTV
masih menitikberatkan pada aspek keamanan fisik.
Aspek perlindungan data pribadi yang
masih belum diterapkan secara konsisten seperti:
Masih banyak lokasi publik yang
memasang CCTV tanpa informasi yang memadai mengenai siapa pengelolanya maupun
tujuan pemrosesan data.
3. Tantangan Penegakan UU PDP
Meskipun masa transisi UU PDP
telah berakhir pada Oktober 2024, implementasinya masih menghadapi tantangan
karena sejumlah aturan pelaksana dan kelembagaan pengawas belum sepenuhnya
matang. Hal ini menciptakan ketidakpastian bagi organisasi yang mengoperasikan
CCTV, terutama terkait standar kepatuhan yang harus dipenuhi.
Perbandingan dengan Negara Lain
Uni Eropa (GDPR)
Uni Eropa memiliki salah satu
regulasi paling komprehensif melalui General Data Protection Regulation
(GDPR).
Penggunaan CCTV wajib memenuhi
prinsip:
Operator CCTV harus dapat
membuktikan alasan hukum penggunaan kamera, memasang pemberitahuan yang jelas,
membatasi masa penyimpanan rekaman, dan melindungi akses terhadap data. Pedoman
dari European Data Protection Board juga menekankan bahwa pengawasan
harus didasarkan pada kebutuhan nyata, bukan sekadar dugaan.
Inggris
Di Inggris terdapat Surveillance
Camera Code of Practice.
Setiap penggunaan CCTV oleh badan
publik harus memperhatikan:
Penggunaan CCTV yang berlebihan
dapat dipersoalkan oleh regulator.
Singapura
Singapura mengatur CCTV melalui Personal
Data Protection Act (PDPA).
Organisasi wajib:
Regulator secara aktif menerbitkan
panduan teknis sehingga pelaku usaha memiliki kepastian dalam penerapan.
Amerika Serikat
Pendekatan Amerika Serikat lebih
terdesentralisasi.
Sebagian besar negara bagian
mengizinkan CCTV di ruang publik, tetapi terdapat pembatasan untuk:
Beberapa kota bahkan membatasi
penggunaan facial recognition oleh pemerintah.
Jepang
Jepang menggunakan pendekatan
kombinasi antara perlindungan data pribadi dan pedoman pemerintah daerah.
Banyak kota memiliki guideline
mengenai:
Posisi Indonesia Dibanding
Negara Lain
Jika dibandingkan negara-negara
tersebut, Indonesia telah memiliki fondasi hukum melalui UU PDP, tetapi masih
tertinggal pada aspek:
Dengan kata lain, Indonesia sudah
memiliki prinsip hukumnya, tetapi belum memiliki tata kelola operasional yang
rinci.
Rekomendasi Kebijakan untuk
Indonesia
Melihat praktik internasional,
terdapat beberapa kebijakan yang layak dipertimbangkan.
1. Menerbitkan Peraturan Khusus
CCTV
Pemerintah dapat menyusun
Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden yang secara khusus mengatur:
Hal ini akan memberikan kepastian
hukum bagi pemerintah maupun sektor swasta.
2. Standarisasi Masa
Penyimpanan
Indonesia belum memiliki batas
retensi nasional.
Sebagai referensi, banyak negara
menetapkan retensi sekitar 30–90 hari, kecuali rekaman diperlukan sebagai
barang bukti. Standar nasional akan mengurangi risiko penyimpanan data secara
berlebihan.
3. Kewajiban Privacy Impact
Assessment
Untuk CCTV berskala besar,
terutama yang menggunakan AI atau facial recognition, sebaiknya
diwajibkan dilakukan Privacy Impact Assessment sebelum sistem
dioperasikan.
Praktik ini telah menjadi bagian
penting dalam rezim GDPR.
4. Regulasi Facial
Recognition
Indonesia perlu mengatur secara
khusus penggunaan:
Teknologi tersebut memiliki risiko
tinggi terhadap privasi dan berpotensi menimbulkan diskriminasi apabila tidak
diawasi.
5. Audit Berkala
Operator CCTV publik perlu
diwajibkan melakukan audit berkala mengenai:
6. Transparansi kepada
Masyarakat
Papan informasi CCTV sebaiknya
tidak hanya mencantumkan simbol kamera, tetapi juga memuat informasi mengenai:
Pendekatan ini sejalan dengan
prinsip transparansi dalam UU PDP.
7. Penguatan Otoritas Pengawas
Efektivitas pengawasan CCTV sangat
bergantung pada keberadaan otoritas pelindungan data yang kuat dan independen.
Penyelesaian pembentukan lembaga pengawas sebagaimana diamanatkan UU PDP,
disertai penerbitan aturan pelaksana, akan meningkatkan kepastian hukum dan
konsistensi penegakan.
#Catatan Redaksi HukumInfo#
Indonesia telah memasuki era baru
pengaturan CCTV dengan hadirnya UU Pelindungan Data Pribadi. Meskipun belum
memiliki undang-undang khusus mengenai CCTV, prinsip-prinsip perlindungan data
kini menjadi dasar hukum penggunaan kamera pengawas, terutama di ruang publik.
Namun demikian, perkembangan
regulasi masih berada pada tahap transisi. Implementasi di lapangan menunjukkan
bahwa penggunaan CCTV berkembang jauh lebih cepat dibandingkan pembentukan
standar hukum dan teknis. Hal ini berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi
penyelenggara maupun masyarakat sebagai subjek data.
Pengalaman Uni Eropa, Inggris,
Singapura, Jepang, dan beberapa negara lain menunjukkan bahwa efektivitas
regulasi CCTV tidak hanya bergantung pada keberadaan undang-undang, tetapi juga
pada pedoman operasional, audit, transparansi, serta pengawasan yang kuat.
Oleh karena itu, Indonesia perlu
melengkapi kerangka hukum yang telah ada dengan regulasi teknis yang lebih
rinci, penguatan kelembagaan pengawas, serta tata kelola penggunaan teknologi
pengawasan berbasis kecerdasan buatan agar keseimbangan antara keamanan publik
dan perlindungan hak privasi dapat terwujud secara berkelanjutan.
Disclaimer:
Informasi dan pendapat dalam tulisan ini disajikan semata-mata untuk tujuan
informasi dan edukasi publik. Dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk
penggunaan, penafsiran, maupun keputusan yang diambil berdasarkan isi tulisan
ini. Pembaca diharapkan melakukan verifikasi dan penilaian secara mandiri
sesuai kebutuhan.
0 Komentar:
Login